Saturday, April 20, 2019

TERJEMAHAN KITAB FATHUL QORIB BAB IJARAH

BAB AKAD SEWA

(Fasal) menjelaskan hukum-hukum sewa.
(فَصْلٌ فِيْ أَحْكَامِ الْإِجَارَةِ
Lafadz “al ijarah” itu dengan dibaca kasrah huruf hamzahnya menurut pendapat yang masyhur. Dan ada yang menghikayahkan bahwa hamzahnya terbaca dlammah.

وَهِيَ بِكَسْرِ الْهَمْزَةِ فِيْ مَشْهُوْرٍ وَحُكِيَ ضَمُّهَا
Ijarah secara bahasa adalah nama sebuah ongkos.
وَهِيَ لُغَةً اسْمٌ لِلْأُجْرَةِ
Dan secara syara’ adalah akad yang dilakukan pada manfaat yang sudah diketahui, yang maksud, dan menerima untuk diserahkan pada orang lain dan menerima untuk boleh digunakan dengan membanyar ganti / ongkos yang sudah diketahui.

وَشَرْعًا عَقْدٌ عَلَى مَنْفَعَةٍ مَعْلُوْمَةٍ مَقْصُوْدَةٍ قَابِلَةٍ لِلْبَذْلِ وَالْإِبَاحَةِ بِعِوَضٍ مَعْلُوْمٍ
Syarat masing-masing dari orang yang menyewakan dan yang menyewa adalah rusyd (pintar) dan tidak ada paksaan.

وَشَرْطُ كُلٍّ مِنَ الْمُؤْجِرِ وَالْمُسْتَأْجِرِ الرُّشْدُ وَعَدَمُ الْإِكْرَاهِ
Dengan bahasa “manfaat yang sudah diketahui”, mengecualikan akad ju’alah (sayembara).

وَخَرَجَ بِمَعْلُوْمَةٍ الْجُعَالَةُ
Dengan keterangan “manfaat yang dituju”, mengecualikan menyewa buah apel karena untuk mencium baunya.

وَبِمَقْصُوْدَةٍ اسْتِئْجَارُ تُفَّاحَةٍ لِشُمِّهَا
Dengan keterangan “bisa menerima untuk diserahkan pada orang lain”, mengecualikan manfaat vagina, maka akad yang dilakukan pada manfaat vagina tidak disebut dengan ijarah.

وَبِقَابِلَةٍ لِلْبَذْلِ مَنْفَعَةُ الْبُضْعِ فَالْعَقْدُ عَلَيْهَا لَا يُسَمَّى إِجَارَةً
Dengan keterangan “menerima untuk boleh dimanfaatkan orang lain”, mengecualikan menyewakan budak-budak perempuan untuk dijima’.

وَبِالْإِبَاحَةِ إِجَارَةُ الْجَوَارِي لِلْوَطْءِ
Dengan keterangan “dengan memberi ganti/ongkos”, mengecuali-kan akan pinjam.

وَبِعِوَضٍ الْإِعَارَةُ
Dengan keterangan “ongkos yang sudah diketahui”, mengecualikan upah dari akad musaqah.

وَبِمَعْلُوْمٍ عِوَضُ الْمُسَاقَاةِ
Akad ijarah tidak sah kecuali dengan ijab (serah) seperti kata-kata “aku menyewakan padamu”, dan qabul (terima) seperti ucapan “aku menyewa”.
وَلَا تَصِحُّ الْإِجَارَةُ إِلَّا بِإِيْجَابٍ كَآجَرْتُكَ وَقَبُوْلٍكَاسْتَأْجَرْتُ


Barang Yang Disewakan

Mushannif menyebutkan batasan barang yang sah untuk disewakan dengan perkataan beliau,
وَذَكَرَ الْمُصَنِّفُ ضَابِطَ مَا تَصِحُّ إِجَارَتُهُ بِقَوْلِهِ
Setiap sesuatu yang mungkin untuk dimanfaatkan tanpa mengurangi barangnya, seperti menyewa rumah untuk ditempati dan menyewa binatang untuk dinaiki, maka sah untuk diijarahkan / disewakan. Jika tidak, maka tidak sah.
(وَكُلُّ مَا أَمْكَنَ الْاِنْتِفَاعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ) كَاسْتِئْجَارِ دَارٍ لِلسُّكْنَى وَدَابَّةٍ لِلرُّكُوْبِ (صَحَّتْ إِجَارَتُهُ) وَإِلَّا فَلاَ

Syarat Ijarah

Sahnya menyewakan apa yang telah disebutkan di atas memiliki beberapa syarat yang dijelaskan oleh mushannif dengan perkataan beliau,

وَلِصَحَّةِ إِجَارَةِ مَا ذُكِرَ شُرُوْطٌ ذَكَرَهَا بِقَوْلِهِ.
Ketika manfaat barang tersebut dibatasi/dikira-kirakan dengan salah satu dari dua perkara,

(إِذَا قُدِّرَتْ مَنْفَعَتُهُ بِأَحَدِ أَمْرَيْنِ)
-yaitu- adakalanya dengan waktu seperti, “saya menyewakan rumah ini padamu selama setahun”.

إِمَّا (بِمُدَّةٍ) كَأَجَرْتُكَ هَذِهَ الدَّارَ سَنَةً
Atau dibatasi dengan pekerjaan seperti, “saya menyewamu untuk menjahit baju ini untukku.”
(أَوْ عَمَلٍ) كَاسْتَأْجَرْتُكَ لِتَخِيْطَ لِيْ هَذَا الثَّوْبَ

Ongkos Ijarah

Ongkos di dalam akad ijarah telah menjadi tetap dengan akad itu sendiri -tidak harus menanti selesainya memanfaatkan barang yang disewakan-.

وَتَجِبُ الْأُجْرَةُ فِي الْإِجَارَةِ بِنَفْسِ الْعَقْدِ
Memutlakkan akad ijarah menetapkan pembayaran ongkos secara kontan.
(وَإِطْلَاقُهَا يَقْتَضِيْ تَعْجِيْلَ الْأُجْرَةِ
Kecuali jika di dalam akad ijarah tersebut disyaratkan pembayaran ongkos secara tempo, maka kalau demikian pembayaran ongkosnya ditempo.
إِلَّا أَنْ يُشْتَرَطَ) فِيْهَا (التَّأْجِيْلُ) فَتَكُوْنُ الْأُجْرَةُ مُؤَجَّلَةً حِيْنَئِذٍ

Hukum Ijarah

Akad ijarah tidak batal sebab kematian salah satu dari dua orang yang akad, maksudnya orang yang menyewakan dan yang menyewa.

(وَلَا تَبْطُلُ الْإِجَارَةُ بِمَوْتِ أَحَدِ الْمُتَعَاقِدَيْنِ) أَيِ الْمُؤْجِرِ وَالْمُسْتَأْجِرِ
Dan tidak batal sebab kedua orang yang melakukan akad meninggal dunia. Bahkan akad ijarah tetap berlangsung setelah keduanya meninggal hingga masa akad tersebut habis.

وَلَا بِمَوْتِ الْمُتَعَاقِدَيْنِ بَلْ تَبْقَى الْإِجَارَةُ بَعْدَ الْمَوْتِ إِلَى انْقِضَاءِ مُدَّتِهَا
Dan ahli waris penyewa menggantikan posisinya untuk memanfaatkan barang yang disewanya.

وَيَقُوْمُ وَارِثُ الْمُسْتَأْجِرِ مَقَامَهُ فِيْ اسْتِيْفَاءِ مَنْفَعَةِ الْعَيْنِ الْمُؤْجَرَةِ
Akad ijarah menjadi batal sebab barang yang disewa dan telah ditentukan menjadi rusak seperti rumah yang disewa roboh, dan binatang tunggangan yang telah ditentukan mati.

(وَتَبْطُلُ) الْإِجَارَةُ (بِتَلَفِ الْعَيْنِ الْمُسْتَأْجَرَةِ) كَانْهِدَامِ الدَّارِ وَمَوْتِ الدَّابَّةِ الْمُعَيَّنَةِ
Batalnya akad ijarah sebab hal-hal yang telah dijelaskan tersebut memandang pada masa-masa setelah itu, tidak masa-masa yang telah lewat.

وَبُطْلَانُ الْإِجَارَةِ بِمَا ذُكِرَ بِالنَّظَرِ لِلْمُسْتَقْبَلِ لَا لِلْمَاضِيْ
Sehingga hukum akad ijarah pada masa-masa yang telah terlewati tidak batal menurut pendapat al adlhar, bahkan bagiannya dari ongkos yang telah disebutkan di awal menjadi tetap -hak orang yang menyewakan- dengan mempertimbangkan ongkos standar.

فَلَا تَبْطُلُ الْإِجَارَةُ فِيْهِ فِيْ الْأَظْهَرِ بَلْ يَسْتَقِرُّ قِسْطُهُ مِنَ الْمُسَمَّى بِاعْتِبَارِ أُجْرَةِ الْمِثْلِ
Sehingga manfaat yang ada saat akad di kalkulasi berapa kira-kira yang telah digunakan di waktu-waktu yang sudah dilewati. ketika dikatakan kadarnya sekian, maka kadar tersebut diambil dari ongkos yang sudah disepakati sesuai dengan kalkulasi tersebut.
فَتُقَوَّمُ الْمَنْفَعَةُ حَالَ الْعَقْدِ فِيْ الْمُدَّةِ الْمَاضِيَةِ فَإِذَا قِيْلَ كَذَا يُؤْخَذُ بِتِلْكَ النِّسْبَةِ مِنَ الْمُسَمَّى
Penjelasan di depan mengenai bahwa akad ijarah tidak rusak di masa-masa yang sudah lewat itu diqayyidi bahwa rusaknya tersebut setelah barang yang disewa telah diterima oleh pihak penyewa dan telah melewati masa yang layak untuk di beri ongkos.

وَمَا تَقَدَّمَ مِنْ عَدَمِ الْاِنْفِسَاخِ فِيْ الْمَاضِيْ مُقَيَّدٌ بِمَا بَعْدَ قَبْضِ الْعَيْنِ الْمُؤْجَرَةِ وَبَعْدَ مُضِيِّ مُدَّةٍ لَهَا أُجْرَةٌ
Jika tidak demikian, maka akad ijarah menjadi batal di masa-masa yang akan datang dan masa yang sudah lewat.

وَإِلَّا انْفَسَخَ فِيْ الْمُسْتَقْبَلِ وَالْمَاضِيْ
Dengan keterangan “barang sewaan yang telah ditentukan”, mengecualikan permasalah ketika binatang tunggangan yang disewakan itu hanya disifati dalam tanggungan -tidak ditentukan yang mana-.

وَخَرَجَ بِالْمُعَيَّنَةِ مَا إِذَا كَانَتِ الدَّابَّةُ الْمُؤْجَرَةُ فِيْ الذِّمَّةِ
Sehingga, ketika yang menyewakan telah mendatangkannya dan ternyata binatang tersebut mati di tengah-tengah masa akad sewa, maka akad ijarah tersebut tidak rusak, bahkan bagi yang menyewakan harus menggantinya.

فَإِنَّ الْمُؤْجِرَ إِذَا أَحْضَرَهَا وَمَاتَتْ فِيْ أَثْنَاءِ الْمُدَّةِ فَلَا تَنْفَسِخُ الْإِجَارَةُ بَلْ يَجِبُ عَلَى الْمُؤْجِرِ إِبْدَالُهَا
Ketahuilah sesungguhnya kekuasaan orang yang disewa terhadap barang yang disewakan adalah kekuasaan yang berupa amanah.

وَاعْلَمْ أَنَّ يَدَّ الْأَجِيْرِ عَلَى الْعَيْنِ الْمُؤْجَرَةِ يَدُّ أَمَانَةٍ
Sehingga tidak ada kewajiban baginya untuk mengganti kecuali sebab keteledorannya pada barang tersebut, seperti ia memukul binatang tunggangan di atas ukuran yang biasa, atau menaikkan seseorang yang lebih berat dari pada dirinya di atas binatang tersebut.
(وَ) حِيْنَئِذٍ (لَا ضَمَانَ عَلَى الْأَجِيْرِ إِلَّا بِعُدْوَانٍ) فِيْهَا كَأَنْ ضَرَبَ الدَّابَّةَ فَوْقَ الْعَادَةِ أَوْ أَرْكَبَهَا شَخْصًا أَثْقَلَ مِنْهُ

Sunday, April 14, 2019

TERJEMAHAN KITAB FATHUL QORIB (BAJURI ) KITAB THOHAROH; TENTANG AIR


KITAB THOHAROH TENTANG AIR
قَالَ المُصَنِّف رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى.
Mushannif berkata - semoga Allah memberi rahmat pada beliau - :
كِتَابُ أَحْكَامِ الطَّهَارَةِ
KOMPILASI KETENTUAN-KETENTUAN BERSUCI
وَالْكِتَابُ لُغَةً مَصْدَرٌ بِمَعْنَى الضَّمِّ وَالجَمْعِ. وَاصْطِلَاحاً اسْمٌ لِجِنْسٍ مِنَ الأَحْكَامِ. أَمَّا الْبَابُ فَاسْمٌ لِنَوْعٍ مِمَّا دَخَلَ تَحْتَ ذَلِكَ الْجِنْسِ.
Kitab menurut bahasa adalah masdar yang memiliki arti mengumpulkan. Sedang menurut istilah adalah nama bagi satu jenis dari beberapa hukum. Adapun “Bab” ialah nama bagi satu macam dari sekian hukum yang masuk pada jenis tersebut.
CATATAN :__________________________________
Mashdar adalah sebuah kata yang mengandung makna suatu perbuatan tanpa mengaitkan waktu.
وَالطَّهَارَةُ بِفَتْحِ الظَّاءِ لُغَةً النَّظَافَةُ. وَأَمَّا شَرْعاً فَفِيْهَا تَفَاسِيْرُ كَثِيْرَةٌ. مِنْهَا قَوْلُهُمْ فِعْلُ مَا تُسْتَبَاحُ بِهِ الصَّلَاة  أَيْ مِنْ وُضُوْءٍ وَغَسْلٍ وَتَيَمُّمٍ وَإِزَالَةِ نَجَاسَةٍ. أَمَّا الطُّهَارَةُ بِالضَّمِّ فَاسْمٌ لِبَقِيَّةِ المَاءِ.
“Thoharoh” dengan harokat fathah pada huruf tho’ menurut bahasa adalah bersih. Sedangkan  menurut syara’, maka didalamnya terdapat banyak penafsiran. Diantaranya adalah ungkapan ulama’ “Melakukan sesuatu yang dengannya sholat diperbolehkan” yaitu berupa wudlu, mandi, tayamum dan menghilangkan najis. Sedangkan “thuharoh” dengan harokat dlomah (pada huruf tho’) adalah sebutan bagi sisa air.
وَلَمَّا كَانَ المَاءُ آلَةً لِلطَّهَارَةِ  اسْتَطْرَدَ المُصَنِّفُ لِأَنْوَاعِ المِيَاهِ فَقَالَ:
Karena air itu menjadi media bersuci, maka Mushannif mengutarakan tentang macam-macam air. Beliau berkata:
(المِيَاهُ الَّتِيْ يَجُوْزُ) أَيْ يَصِحُّ (التَّطْهِيْرُ بِهَا سَبْعُ مِيَاهٍ مَاءُ السَّمَاءِ) أي النَّازِلُ مِنْهَا وَهُوَ المَطَرُ (وَمَاءُ البَحْرِ) أيْ المِلْحِ (وَمَاءُ النَّهَرِ) أي الحُلْوِ (وَمَاءُ البِئْرِ وَمَاءُ العَيْنِ وَمَاء الثَّلْجِ وَمَاء البَرَدِ) وَيَجْمَعُ هَذِهِ السَّبْعَةِ قَوْلُكَ: مَا نَزَلَ مِنَ السَّمَاءِ أَوْ نَبَعَ مِنَ الأَرْضِ عَلَى أَيِّ صِفَةٍ كَانَ مِنْ أَصْلِ الخِلْقَةِ
Air-air yang boleh, maksudnya sah digunakan bersuci dengannya ada tujuh macam air.
1.       Air langit maksudnya yang turun dari langit, yaitu hujan,
2.      Air laut maksudnya air asin
3.      Air sungai yaitu air tawar
4.      Air sumur,
5.      Air sumber air,
6.      Air tsalju dan
7.      Air es (dari langit).
Tujuh macam air ini terkumpulkan oleh ungkapanmu “sesuatu yang turun dari langit atau memancar dari bumi dengan berbagai macam kondisi dari bentuk asalnya”
CATATAN :__________________________________
Perbedaan antara air tsalji dan air barad adalah tsalji itu turun dari langit dalam kondisi cair lantas membeku di atas bumi karena cuaca yang sangat dingin. Sedangkan barad itu turun dari langit dalam keadaan beku/keras kemudian mencair diatas bumi. Sebagian Ulama’ menyatakan bahwa sebenarnya keduanya turun dari langit dalam keadaan cair saat ditengah-tengah perjalanan ke bumi keduanya mengeras. Yang membedakan keduanya adalah saat berada diatas bumi, tsalji tetap dalam kondisi beku sedangkan barad mencair. Keduanya dibedakan dari air hujan yang sebenarnya sama-sama turun dari langit karena memandang sisi bekunya. Kondisi beku dan keras inilah yang membedakan keduanya dari air hujan. Lihat Al-Baijuri, Al-Haramain, Juz 1 hal. 27.
(ثُمَّ المِيَاهُ) تَنْقَسِمُ (عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ) أَحَدُهَا (طَاهِرٌ) فِيْ نَفْسِهِ (مُطَهِّرٌ) لِغَيْرِهِ (غَيْرُ مَكْرُوْهٍ اسْتِعْمَالُهُ. وَهُوَ المَاءُ المُطْلَقُ) عَنْ قَيِّدٍ لَازِمٍ فَلَا يَضُرُّ القَيِّدُ المُنْفَكُّ كَمَاءِ البِئْرِ فِي كَوْنِهِ مُطْلَقاً
Selanjutnya, air terbagi atas 4 macam.
Yang pertama: Air yang suci dzatnya menyucikan terhadap selainnya dan tidak makruh digunakan. Yaitu Air yang terbebas dari identitas yang mengikat. Maka keberadaan identitas yang tidak mengikat itu tidak membahayakan terhadap kemutlakan air.
(وَ) الثَّانِي (طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ مَكْرُوْهٌ اسْتِعْمَالُهُ) فِي البَدَنِ لَا فِي الثَّوْبِ (وَهُوَ المَاءُ المُشَمَّسُ) أي المُسَخَّنُ بِتَأْثِيْرِ الشَّمْسِ فِيْهِ. وَإِنَّمَا يُكْرَهُ شَرْعاً بِقَطْرٍ حَارٍ فِي إِنَاءٍ مُنْطَبَعٍ  إِلَّا إِنَاءَ النَّقْدَيْنِ لِصَفَاءِ جَوْهَرِهِمَا. وَإِذَا بَرَدَ زَالَتْ الكَرَاهَةُ. وَاخْتَارَ النَّوَوِيُّ عَدَمَ الْكَرَاهَةِ مُطْلَقاً. وَيُكْرَهُ أَيْضاً شَدِيْدُ السُّخُوْنَةِ وَالبُرُوْدَةِ
Dan yang kedua adalah air suci menyucikan namun makruh  digunakan pada tubuh, tidak makruh pada pakaian, yaitu air Musyammas. Ialah air yang dipanaskan dengan mengandalkan pengaruh sengatan matahari padanya. Air tersebut secara syara’ dimakruhkan penggunaanya hanya di daerah yang bercuaca panas dan air berada di wadah yang terbuat dari logam selain wadah dari dua logam mulia /emas dan perak,  sebab kejernihan elemen keduanya. Jika air tersebut telah dingin maka hilanglah hukum makruh menggunakannya. Tetapi imam An-Nawawi memilih pendapat yang menyatakan tidak makruh secara mutlak. (Selain makuh menggunakan air musyammas) dimakruhkan juga menggunakan air yang sangat panas dan sangat dingin.
CATATAN :__________________________________
Ø  Penggunaan air musyammas sebagai media bersuci ini makruh jika masih ada wadah yang lain. Jika tidak ada wadah lain maka hukumnya tidak makruh. Bahkan bisa menjadi wajib saat waktu sholat hamper habis dan tidak menemukan yang lain. Al-Baijuri, Darul Kutub Al-Ilmiyah, hal. 29
Syarat dimakruhkannya air musyammas sebagai berikut:
1.       Berada di daerah bercuaca panas seperti Mekah dsb. Sehingga tidak makruh jika digunakan dalam daerah yang bercuaca sedang seperti negara Mesir atau daerah Jawa dan daerah dingin seperti Syiria dsb.
2.      Sengatan matahari merubah kondisi air sekira pada air muncul zat yang berasal dari karat logam.
3.      Air berada pada wadah yang terbuat dari logam selain emas perak. Seperti wadah yang terbuat dari logam besi, tembaga dsb.
4.      Digunakan saat suhu air sedang panas.
5.      Digunakan pada kulit badan. Meskipun pada badan orang yang terkena penyakit kusta, orang mati dan hewan.
6.      Dipanaskan saat cuaca panas.
7.      Masih ada air selain musyammas yang dapat dipergunakan.
8.      Waktu sholat masih longgar sehingga masih ada waktu untuk mencari air yang lain.
9.      Tidak mendapat bahaya secara nyata atau dalam dugaan kuatnya. Jika meyakini atau menduga akan muncul bahaya maka haram hukumnya.
Bila tidak memenuhi sembilan syarat ini maka hukum menggunakannya tidak lagi makruh. Nihayat az-Zain, Darul Kutub Al-Ilmiyah, hal. 17
Ø  Tidak makruhnya menggunakan air musyammas dalam bejana yang terbuat dari logam mulia (emas dan perak) bukan berarti boleh menggunakan bejana tersebut. Sebab penggunaan bejana itu hukumnya haram dari sisi menggunakan emas perak. Sedangkanm tidak makruhnya menggunakan air musyammas dalam bejana tersebut karena memandang sisi tidak membahayakannya menggunakan air mesyammas tersebut. Sehingga hukum menggunakan air musyammas dalam bejana itu hukumnya tidak makruh (halal) dipandang dari sisi menggunakan air musyammas yang tidak berbahaya dan haram dari sisi menggunakan emas dan perak. Lihat Al-Baijuri, Darul Kutub Al-Ilmiyah, hal. 29-30
(وَ) القِسْمُ الثَّالِثُ (طَاهِرٌ) فِي نَفْسِهِ (غَيْرُ مُطَهِّرٍ) لِغَيْرِهِ (وَهُوَ المَاءُ المُسْتَعْمَلُ) فِي رَفْعِ حَدَثٍ أَوْ إِزَالَة نَجْسٍ إِنْ لَمْ يَتَغَيَّرْ وَلَمْ يَزِدْ وَزْنُهُ بَعْدَ انْفِصَالِهِ عَمَّا كَانَ بَعْدَ اعْتِبَارِ مَا يَتَشَرَّبُهُ المَغْسُوْلُ مِنَ المَاءِ.
Dan bagian yang ketiga adalah:
1.       Air suci dalam dzatnya tidak menyucikan terhadap selainnya. Ialah air musta’mal / yang telah digunakan untuk menghilangkan hadats atau najis. (Dihukumi musta’mal dengan syarat)  air tidak berubah dan setelah terpisah (dari benda yang dibasuh) volume air tidak bertambah dari semula dengan mengira-ngirakan bagian air yang terserap oleh benda yang dibasuh.
(وَالمُتَغَيِّرُ) أَيْ وَمِنْ هَذَا القِسْمِ المَاءُ المُتَغَيِّرُ أَحَدُ أَوْصَافِهِ (بِمَا) أَيْ بِشَيْءٍ (خَالَطَهُ مِنَ الطَّاهِرَاتِ) تَغَيُّراً يَمْنَعُ إِطْلَاقَ اسْمِ المَاءِ عَلَيْهِ. فَإِنَّهُ طَاهِرٌ غَيْرُ طَهُوْرٍ حِسِّيًّا كَانَ التَّغَيُّرُ أَوْ تَقْدِيْرِيًّا. كَأَنْ اخْتَلَطَ بِالمَاءِ مَا يُوَافِقُهُ فِي صِفَاتِهِ كَمَاءِ الوَرْدِ المُنْقَطِعِ الرَّائِحَةِ  وَالمَاءِ المُسْتَعْمَلِ
2.      Air yang berubah. Maksudnya yang termasuk dalam bagian ketiga ini adalah air yang berubah salah satu sifat-sifatnya disebabkan oleh sesuatu; yaitu salah satu dari benda-benda suci yang bercampur dengan air, dengan taraf perubahan yang dapat menghalangi sebutan nama air (murni) padanya*. Maka air yang seperti ini hukumnya adalah suci dalam dirinya namun tidak menyucikan. Baik perubahan itu nampak oleh panca indra atau hanya dalam perkiraan, seperti ketika air tercampur oleh benda yang sesuai (dengan air) dalam sifat-sifatnya, misal air bunga mawar yang telah hilang baunya (dicampur dengan air mutlak) dan seperti air musta’mal (dicampur dengan air mutlak).
CATATAN :__________________________________
*Contoh air ditambahkan pemanis maka tidak disebut lagi sebagai air tetapi dinamakan minuman, air ditambahkan sayuran dan penyedap maka air tersebut tidak lagi dinamakan air tetapi dinamakan kuah dsb.
فَإِنْ لَمْ يَمْنَعْ إِطْلَاقَ اسْمِ المَاءِ عَلَيْهِ بِأَنْ كَانَ تَغَيُّرُهُ بِالطَّاهِرِ يَسِيْراً  أَوْ بِمَا يُوَافِقِ المَاءَ فِي صِفَاتِهِ وَقُدِّرَ مُخَالِفاً  وَلَمْ يُغَيِّرْهُ فَلَا يَسْلُبُ طَهُوْرِيَّتَهُ. فَهُوَ مُطَهِّرٌ لِغَيْرِهِ.
Sehingga bila saja perubahan itu tidak mencegah penisbatan nama air mutlak padanya, dengan sekira perubahan air yang disebabkan oleh benda suci itu hanya sedikit, atau dengan sesuatu yang cocok terhadap air dalam sifatnya dan dianggap berbeda dengan air namun tidak sampai membuatnya berubah (dari kemurnian air) maka perubahan itu tidak menghilangkan sifat suci mensucikannya air. Sehingga air (yang dijelaskan terakhir ini) masih dapat mensucikan terhadap selainnya.
وَاحْتَرَزَ بِقَوْلِهِ خَالَطَهُ عَنِ الطَّاهِرِ المُجَاوِرِ لَهُ. فَإِنَّهُ بَاقٍ عَلَى طَهُوْرِيَّتِهِ. وَلَوْ كَانَ التَّغَيُّرُ كَثِيْراً وَكَذَا المُتَغَيِّرُ بِمُخَالِطٍ. لَا يَسْتَغْنِي المَاءُ عَنْهُ كَطِيْنٍ وَطُحْلَبٍ. وَمَا فِي مَقَرِّهِ وَمَمَرِّهِ. وَالمُتَغَيِّرُ بِطُوْلِ المُكْثِ فَإِنَّهُ طَهُوْرٌ.
Mushannif mengecualikan dengan ungkapannya “خَالَطَهُ” dari benda yang suci yang hanya mukholith/ tidak larut pada air maka air tersebut masih berada pada status suci mensucikan meskipun perubahan air sangat nampak. Begitu pula (seperti air yang bersinggungan dengan benda suci yang dihukumi masih mensucikan) air yang berubah sebab tercampur dengan benda yang larut namun air tidak terlepas dari persinggungan dengannya. Seperti lumpur, lumut, benda-benda yang berada di tempat berdiamnya air atau di tempat mengalirnya air, dan air yang berubah disebabkan lamanya diam (tanpa gerak). Maka air-air ini (secara hukum) adalah suci mensucikan.
 (و) القِسْمُ الرَّابِعُ (مَاءُ نَجْسٍ) أي مُتَنَجِّسٌ وَهُوَ قِسْمَانِ أَحَدُهُمَا قَلِيْلٌ (وَهُوَ الَّذِيْ حَلَّتْ فِيْهِ نَجَاسَةٌ) تَغَيَّرَ أَمْ لَا (وَهُوَ) أَيْ وَالحَالُ أَنَّهُ مَاءٌ (دُوْنَ القُلَّتَيْنِ)
Dan bagian yang keempat adalah air najis, maksudnya mutanajis. Air ini ada dua bagian:
Yang pertama adalah yang volumenya sedikit; yaitu air yang didalamnya terdapat najis baik air mengalami perubahan atau tidak dan air tersebut; maksudnya kondisi air tersebut adalah air yang kurang dari dua qullah.
وَيُسْتَثْنَى مِنْ هَذَا القِسْمُ المَيْتَةُ الَّتِيْ لَا دَمَ لَهَا سَائِلٌ عِنْدَ قَتْلِهَا أَوْ شَقِّ عُضْوٍ مِنْهَا كَالذُّبَابِ إِنْ لَمْ تُطْرَحْ فِيْهِ وَلَمْ تُغَيِّرْهُ. وَكَذَا النَّجَاسَةُ الَّتِيْ لَا يُدْرِكُهَا الطَّرْفُ. فَكُلٌّ مِنْهُمَا لَا يُنْجِسُ المَائِعَ وَيُسْتَثْنَى أَيْضاً صُوَرٌ مَذْكُوْرَةٌ فِي المَبْسُوْطَاتِ.
Dari bagian ini dikecualikan (air kemasukan) bangkai binatang yang tidak memiliki darah yang dapat mengalir saat dibunuh atau dirobek bagian tubuhnya - seperti lalat- jika (masuknya bangkai tersebut ke dalam air itu ) tidak (ada kesengajaan) memasukkannya. Begitu juga najis yang tidak terlihat oleh mata. Maka kedua najis tersebut tidak menajiskan benda cair. Juga dikecualikan beberapa kasus yang disebutkan dalam kitab-kitab besar.
وَأَشَارَ لِلْقِسْمِ الثَّانِي مِنَ القِسْمِ الرَّابِعِ بِقَوْلِهِ (أَوْ كَانَ) كَثِيْراً (قُلَّتَيْنِ) فَأَكْثَرَ (فَتَغَيَّرَ) يَسِيْراً أَوْ كَثِيْراً. (وَالْقُلَّتَانِ خَمْسُمِائَةِ رِطْلٍ بَغْدَادِيٍّ تَقْرِيْباً فِي الأَصَحِّ) فِيْهِمَا وَالرِّطْلُ البَغْدَادِيُّ عِنْدَ النَّوَوِيِّ مِائْةٌ وَثَمَانِيَةٌ وَعِشْرُوْنَ دِرْهَماً وَأَرْبَعَةُ أَسْبَاعِ دِرْهَمٍ.
Mushannif memberikan isyarat pada macam yang kedua dari bagian keempat ini dengan ungkapannya “Atau airnya banyak, berupa dua qullah” atau lebih “kemudian terjadi perubahan” baik perubahan yang sedikit atau banyak.
Dua qullah adalah takaran 500 Rithl Baghdad dengan mengira-ngirakannya menurut pendapat Ashah (pendapat yang lebih shohih/benar dibanding pendapat yang lain) dalam dua kriteria tersebut; (yakni takaran 500 rithl dan dengan mengira-ngirakannya). Rithl Baghdad menurut An-Nawawy adalah 128 4/7 dirham.
CATATAN :__________________________________
Ø  Ukuran air dua qullah menurut
ü  Imam Nawawi = 174,580 lt / kubus berukuran kurang lebih 55,9 cm.
ü  Imam Rofi’i = 176,245 lt / kubus berukuran jurang lebih 56,1 cm.
ü  Ulama’ Iraq = 255,325 lt / kubus berukuran kurang lebih 63,4 cm.
ü  Mayoritas Ulama = 216,000 lt / kubus berukuran kurang lebih 60 cm.
Ø  Kriteria yang menjadi pertimbangan dalam menyatakan air mencapai 2 qullah ada dua, volume dan ketepatan volume. Qoul Ashah dalam masalah volume, dua qullah adalah 500 rithl. Sedangkan menurut pendapat yang lain adalah 600 rithl dan ada yang menyatakan 1.000 rithl. Untuk kriteria ketepatan volume Qoul Ashahnya adalah taqribi (dengan kira-kira/tidak harus tepat), sehingga bila saja kurang satu atau dua qullah maka masih termasuk 2 qullah. Dan menurut pendapat lain volume harus tepat (tahdid), sehingga kurang sedikit saja sudah tidak dianggap 2 qullah. Lihat Al-Baijuri, Darul Kutub Al-Ilmiyah, juz 1 hal. 78-79
وَتَرَكَ المُصَنِّفُ قِسْماً خَامِساً وَهُوَ المَاءُ المُطَهِّرُ الحَرَامُ كَالوُضُوْءِ بِمَاءٍ مَغْصُوْبٍ أَوْ مُسَبَّلٍ لِلشُّرْبِ
Mushannif meninggalkan penjelasan bagian yang kelima yaitu air yang menyucikan namun haram menggunakannya. Seperti wudlu menggunakan air ghosob atau menggunakaan air yang disediakan untuk minum.

Saturday, April 13, 2019

TERJEMAHAN KITAB FATHUL QORIB (BAJURI 1) BAB PERKARA-PERKARA YANG MEMBATALKAN WUDLU’


BAB PERKARA-PERKARA YANG MEMBATALKAN WUDLU’

(Fasal) menjelaskan perkara-perkara yang membatalkan wudlu’ yang disebut juga dengan“sebab-sebab hadats”.


(فَصْلٌ) فِيْ نَوَاقِضِ الْوُضُوْءِ الْمُسَمَّاةِ أَيْضًا بِأَسْبَابِ الْحَدَثِ.

Perkara yang merusak, maksudnya yang membatalkan wudlu’ ada enam perkara.

(وَالَّذِيْ يُنْقِضُ) أَيْ يُبْطِلُ (الْوُضُوْءَ سِتَّةَ أَشْيَاءَ).


Sesuatu Yang Keluar dari Dua Jalan


Salah satunya adalah sesuatu yang keluar dari dua jalan yaitu qubul dandubur-nya orang yang memiliki wudlu, yang hidup dan jelas -jenis kelaminnya-.


أَحَدُهَا (مَا خَرَجَ مِنْ) أَحَدِ (السَّبِيْلَيْنِ) أَيِ الْقُبُلِ وَالدُّبُرِ مِنْ مُتَوَضِّئٍ حَيٍّ وَاضِحٍ.

Baik yang keluar itu adalah sesuatu yang biasa keluar seperti kencing dan tahi, atau jarang keluar seperti darah dan kerikil. Baik yang najis seperti contoh-contoh ini, atau suci seperti ulat (kermi :jawa).


مُعْتَادًا كَانَ الْخَارِجُ كَبَوْلٍ وَغَائِطٍ أَوْ نَادِرًا كَدَمٍّ وَحَصَا نَجَسًا كَهَذِهِ الْأَمْثِلَةِ أَوْ طَاهِرًا كَدُوْدٍ.

Kecuali sperma yang keluar sebab mimpi yang dialami oleh orang yang memiliki wudlu’ yang tidur dengan menetapkan pantatnya di lantai, makasperma tersebut tidak membatalkan wudlu’.


إِلَّا الْمَنِيَّ الْخَارِجَ بِاحْتِلَامٍ مِنْ مُتَوَضِّئٍ مُمَكَّنٍ مَقْعَدَهُ مِنَ الْأَرْضِ فَلَا يُنْقِضُ.

Orang khuntsa musykil,wudlu’nya hanya bisa batal sebab ada sesuatu yang keluar dari kedua farjinya secara keseluruhan.

وَالْمُشْكِلُ إِنَّمَا يَنْقُضُ وُضُوْؤُهُ بِالْخَارِجِ مِنْ فَرْجَيْهِ جَمِيْعًا.


Batal Sebab Tidur


Dan yang kedua adalah tidur dengan keadaan tidak menetapkan pantat. Dalam sebagian redaksimatan ada tambahan kata-kata “dari tanah dengan tempat duduknya”. Tanah bukanlah menjadi qayyid.


(وَ) الثَّانِي (النَّوْمُ عَلَى غَيْرِ هَيْئَةِ الْمَتَمَكِّنِ) وَفِيْ بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ زِيَادَةٌ مِنَ الْأَرْضِ بِمَقْعَدِهِ وَالْأَرْضُ لَيْسَتْ بِقَيِّدٍ.

Dengan bahasa “menetapkan pantat”, maka terkecuali kalau dia tidur dalam keadaan duduk yang tidak menetapkan pantat, tidur dalam keadaan berdiriatau tidur terlentang walaupun menetapkan pantatnya.

وَخَرَجَ بِالْمُتَمَكِّنِ مَا لَوْ نَامَ قَاعِدًا غَيْرَ مُتَمَكِّنٍ أَوْ نَامَ قَائِمًا أَوْ عَلَى قَفَاهُ وَلَوْ مُتَمَكِّنًا.


Sebab Hilangnya Akal


Dan yang ketiga adalah hilangnya akal, maksudnya akalnya terkalahkan sebab mabuk, sakit, gila, epilepsi atau selainnya.


(وَ) الثَّالِثُ (زَوَالُ الْعَقْلِ) أَيِ الْغَلَبَةُ عَلَيْهِ (بِسُكْرٍ أَوْ مَرَضٍ) أَوْ جُنُوْنٍ أَوْ إِغْمَاءٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ.

Sebab Bersentuhan Kulit


Yang ke empat adalahpersentuhan kulit laki-lakidengan kulit perempuan lain yang bukan mahram walaupun sudah meninggal dunia.


(وَ) الرَّابِعُ (لَمْسُ الرَّجُلِ الْمَرْأَةَ الْأَجْنَبِيَّةَ) غَيْرَ الْمَحْرَمِ وَلَوْ مَيِّتَةً.

Yang dikehendaki dengan laki-laki dan perempuan adalah laki-laki dan perempuan yang telah mencapai batas syahwat[1]secara ‘urf.


وَالْمُرَادُ بِالرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ ذَكَرٌ وَأُنْثًى بَلَغَا حَدَّ الشَّهْوَةِ عُرْفًا.

Yang dikehendaki dengan mahram adalah wanita yang haram dinikah karena ikatan nasab, radla’(tunggal susu) atau ikatanmushaharah (pernikahan).


وَالْمُرَادُ بِالْمَحْرَمِ مَنْ حَرُمَ نِكَاحُهَا لِأَجْلِ نَسَبٍ أَوْ رَضَاعٍ أَوْ مُصَاهَرَةٍ.

Perkataan mushannif,“tanpa ada penghalang -diantara keduanya-” mengecualikan seandainya terdapat penghalang diantara keduanya, maka kalau demikian tidak batal.

وَقَوْلُهُ (مِنْ غَيْرِ حَائِلٍ) يُخْرِجُ مَا لَوْ كَانَ هُنَاكَ حَائِلٌ فَلَا نَقْضَ حِيْنَئِذٍ.


Sebab Memegang Kemaluan


Yang kelima, yaitu hal-hal yang membatalkan wudlu’ yang terakhir adalah menyentuh kemaluan anak Adam dengan bagian dalam telapak tangan, baikkemaluannya sendiri atau orang lain, laki-laki atau perempuan, kecil atau besar, masih hidup ataupun sudah meninggal dunia.

(وَ) الْخَامِسُ وَهُوَ آخِرُ النَّوَاقِضِ (مَسُّ فَرْجِ الْآدَمِيِّ بِبَاطِنِ الْكَفِّ) مِنْ نَفْسِهِ وَغَيْرِهِ ذَكَرًا أَوْ أُنْثًى صَغِيْرًا أَوْ كَبِيْرًا حَيًّا أَوْ مَيِّتًا.

Lafadz “anak Adam” tidak tercantum di dalam sebagian redaksi matan.


وَلَفْظُ الْآدَمِيٍّ سَاقِطٌ فِيْ بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ.

Begitu juga tidak tercantum di sebagian redaksi adalah ungkapan mushannif “dan menyentuh lingkaran dubur anak Adam itu bisa membatalkan menurut pendapat qaul Jadid”.


وَكَذَا قَوْلُهُ (وَمَسُّ حَلْقَةِ دُبُرِهِ) أَيِ الْآدَمِيِّ يُنْقِضُ (عَلَى) الْقَوْلِ (الْجَدِيْدِ).

Menurut qaul Qadim, menyentuh lingkaran dubur anak Adam tidak membatalkan wudlu’.


وَعَلَى الْقَدِيْمِ لَايُنْقِضُ مَسُّ الْحَلْقَةِ

Yang dikehendaki denganhalqah adalah tempat bertemunya lubang keluarnya kotoran. Dan yang dikehendaki dengan bagian dalam tangan adalah telapak tangan beserta bagian dalam jari-jari tangan.


وَالْمُرَادُ بِهَا مُلْتَقَى الْمَنْفَذِ وَبِبَاطِنِ الْكَفِّ الرَّاحَةِ مَعَ بُطُوْنِ الْأَصَابِعِ

Dikecualikan dari bagian dalam tangan yaitu bagian luar dan pinggir tangan, ujung jemari dan bagian diantara jemari. Maka tidak sampai membatalkan wudlu’ sebab menyentuh dengan bagian-bagian tersebut, maksudnya setelah menekan sedikit

Monday, April 8, 2019

TERJEMAHAN KITAB FATHUL QORIB(BAJURI I) BAB TAYAMUM

BAB TAYAMMUM

(Fasal) menjelaskan tentang tayammum.


(فَصْلٌ) فِي التَّيَمُّمِ

Dalam sebagian redaksimatan, mendahulukan fasal ini dari pada fasal sebelumnya.


وَفِيْ بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ تَقْدِيْمُ هَذَا الْفَصْلِ عَلَى الَّذِيْ قَبْلَهُ

Tayammum secara bahasa bermakna menyengaja. Dan secara syara’ adalah mendatangkan debu suci mensucikan pada wajah dan kedua tangan sebagai pengganti dari wudlu’, mandi atau membasuh anggota dengan syarat-syarat tertentu.


وَالتَّيَمُّمُ لُغَةً الْقَصْدُ وَشَرْعًا إِيْصَالُ تُرَابٍ طَهُوْرٍ لِلْوَجْهِ وَالْيَدَّيْنِ بَدَلًا عَنْ وُضُوْءٍ أَوْ غُسْلٍ أَوْ غَسْلِ عُضْوٍ بِشَرَائِطَ مَخْصُوْصَةٍ




Syarat-Syarat Tayammum


Syarat-syarat tayammum ada lima perkara. Dalam sebagian redaksi matanmenggunakan bahasa“khamsu khishalin (lima hal)”.

(وَشَرَائِطُ التَّيَمُّمِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ:) وَفِيْ بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ خَمْسُ خِصَالٍ

Salah satunya adalah ada udzur sebab bepergianatau sakit.


أَحَدُهَا (وُجُوْدُ الْعُذْرِ بِسَفَرٍ أَوْ مَرَضٍ

Yang kedua adalah masuk waktu sholat. Maka tidak sah tayammun untuk sholat yang dilakukan sebelum masuk waktunya.

وَ) الثَّانِيْ (دُخُوْلُ وَقْتِ الصَّلَاةِ) فَلَا يَصِحُّ التَّيَمُّمُ لَهَا قَبْلَ دُخُوْلِ وَقْتِهَا

Yang ketiga adalah mencari air setelah masuknya waktu sholat, baik diri sendiri atau orang lain yang telah ia beri izin. Maka ia harusmencari air di tempatnya dan teman-temannya.


(وَ) الثَّالِثُ (طَلَبُ الْمَاءِ) بَعْدَ دُخُوْلِ الْوَقْتِ بِنَفْسِهِ أَوْ بِمَنْ أَذِنَ لَهُ فِيْ طَلَبِهِ فَيَطْلُبُ الْمَاءَ مِنْ رَحْلِهِ وَرُفْقَتِهِ

Jika ia sendirian, maka cukup melihat ke kanankirinya dari ke empat arah, jika ia berada di dataran yang rata.


فَإِنْ كَانَ مُنْفَرِدًا نَظَرَ حَوَالَيْهِ مِنَ الْجِهَاتِ الْأَرْبَعِ إِنْ كَانَ بِمُسْتَوٍ مِنَ الْأَرْضِ

Jika ia berada di tempat yang naik turun, maka harus berkeliling ke tempat yang terjangkau oleh pandangan matanya.


فَإِنْ كَانَ فِيْهَا ارْتِفَاعٌ وَانْخِفَاضٌ تَرَدَّدَ قَدْرَ نَظَرِهِ

Dan yang ke empat adalah sulit menggunakan air.

(وَ) الرَّابِعُ (تَعَذُّرُ اسْتِعْمَالِهِ) أَيِ الْمَاءِ

Dengan gambaran jika menggunakan air, ia khawatir akan kehilangan nyawa atau fungsi anggota badan.


بِأَنْ يَخَافَ مِنِ اسْتِعْمَالِ الْمَاءِ عَلَى ذَهَابِ نَفْسٍ أَوْ مَنْفَعَةِ عُضْوٍ

Termasuk udzur adalah seandainya di dekatnya ada air, namun jika mengambilnya, ia khawatir pada dirinya dari binatang buas atau musuh, atau khawatir hartanya akan diambil oleh pencuri atau orang yang ghasab.


وَيَدْخُلُ فِي الْعُذْرِ مَا لَوْ كَانَ بِقُرْبِهِ مَاءٌ وَخَافَ لَوْ قَصَدَهُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ سَبُعٍ أَوْ عَدُوٍّ أَوْ عَلَى مَالِهِ مِنْ سَارِقٍ أَوْ غَاصِبٍ

Di dalam sebagian redaksimatan, tepat di dalam syarat ini, di temukan tambahan setelah syarat sulit menggunakan air, yaitu membutuhkan air setelah berhasil mendapatkannya.


وَيُوْجَدُ فِيْ بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ فِيْ هَذَا الشَّرْطِ زِيَادَةٌ بَعْدَ تَعَذُّرِ اسْتِعْمَالِهِ وَهِيَ (وَإِعْوَازُهُ بَعْدَ الطَّلَبِ).

Yang kelima adalah debu suci, maksudnya debu suci mensucikan dan tidak basah.


(وَ) الْخَامِسُ (التُّرَابُ الطَّاهِرُ) أَيِ الطَّهُوْرُ غَيْرُ الْمَنْدِيِّ

Debu suci mencakup debu hasil ghasab dan debu kuburan yang tidak digali.


وَيَصْدُقُ الطَّاهِرُ بِالْمَغْصُوْبِ وَتُرَابِ مَقْبَرَةٍ لَمْ تُنْبَشْ

Di dalam sebagian redaksimatan, ditemukan tambahan di dalam syarat ini, yaitu debu yang memiliki ghubar. Sehingga, jika debu tersebut tercampur oleh gamping atau pasir, maka tidak diperbolehkan.


وَيُوْجَدُ فِيْ بَعْضِ الْنَسْخِ زِيَادَةٌ فِيْ هَذَا الشَّرْطِ وَهِيَ (الَّذِيْ لَهُ غُبَارٌ فَإِنْ خَالَطَهُ جَصٌّ أَوْ رَمْلٍ لَمْ يَجُزْ)

Dan ini sesuai dengan pendapat imam an Nawawi di dalam kitabSyarh Muhadzdzab dan atTashhih.


وَهَذَا مُوَافِقٌ لِمَا قَالَهُ النَّوَاوِيُّ فِيْ شَرْحِ الْمُهَذَّبِ وَالتَّصْحِيْحِ

Akan tetapi di dalam kitab ar Raudlah dan al Fatawa, beliau memperbolehkan hal itu.


لَكِنَّهُ فِي الرَّوْضَةِ وَالْفَتَاوَى جَوَّزَ ذَلِكَ

Dan juga sah melakukan tayammum dengan pasir yang ada ghubar-nya.


وَيَصِحُّ التَّيَمُّمُ أَيْضًا بَرَمَلٍ فِيْهِ غُبَارٌ

Dengan ungkapan mushannif “debu”,mengecualikan selain debu seperti gamping danremukan genteng.


وَخَرَجَ بِقَوْلِ الْمُصَنِّفِ التُّرَابُ غَيْرُهُ كَنَوْرَةٍ وَسَحَاقَةِ خَزَفٍ

Dikecualikan dengan debu yang suci yaitu debu najis.


وَخَرَجَ بِالطَّاهِرِ النَّجَسُ

Adapun debu musta’mal, maka tidak syah digunakan tayammum.

وَأَمَّا التُّرَابُ الْمُسْتَعْمَلُ فَلَا يَصِحُّ التَّيَمُّمُ بِهِ


Fardlu-Fardlu Tayammum


Fardlunya tayammum ada empat perkara.


(وَفَرَائِضُهُ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ:)

Salah satunya adalah niat. Dalam sebagian redaksimatan, menggunakan bahasa “empat pekerjaan, yaitu niat fardlu”.


أَحَدُهَا (النِّيَّةُ) وَفِيْ بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ أَرْبَعُ خِصَالٍ نِيَّةُ الْفَرْضِ

Jika orang yang melakukan tayammum niat fardlu dan sunnah, maka dia diperkenankan melakukan keduanya.


فَإِنْ نَوَى الْمُتَيَمِّمُ الْفَرْضَ وَالنَّفْلَ اسْتَبَاحَهُمَا

Atau niat fardlu saja, maka di samping fardlu tersebut, ia juga diperkenankan melakukan ibadah sunnah dan sholat jenazah. Atau niat sunnah saja, maka ia tidak diperkenankan melakukan fardlu besertaan dengan ibadah sunnah, begitu juga seandainya ia niat sholat saja.


أَوِ الْفَرْضَ فَقَطْ اسْتَبَاحَ مَعَهُ النَّفْلَ وَصَلَاةَ الْجَنَائِزِ أَيْضًا أَوِ النَّفْلَ فَقَطْ لَمْ يَسْتَبِحْ مَعَهُ الْفَرْضَ وَكَذَا لَوْ نَوَى الصَّلَاةَ

Dan wajib membarengkan niat tayammum dengan memindah debu pada wajah dan kedua tangan, dan melanggengkan niat hinggah mengusap sebagian wajah.


وَيَجِبُ قَرْنُ نِيَّةِ التَّيَمُّمِ بِنَقْلِ التُّرَابِ لِلْوَجْهِ وَالْيَدَّيْنِ وَاسْتِدَامَةِ هَذِهِ النِّيَّةِ إِلَى مَسْحِ شَيْئٍ مِنَ الْوَجْهِ

Seandainya dia hadats setelah memindah debu, maka tidak diperkenankan mengusap dengan debu tersebut, akan tetapi harus memindah / mengambil debu yang lain.


وَلَوْ أَحْدَثَ بَعْدَ نَقْلِ التُّرَابِ لَمْ يَمْسَحْ بِذَلِكَ التُّرَابِ بَلْ يَنْقُلُ غَيْرَهُ

Rukun yang kedua dan ketiga adalah mengusap wajah dan mengusap kedua tangan beserta kedua siku.


(وَ) الثَّانِيْ وَالثَّالِثُ (مَسْحُ الْوَجْهِ وَمَسْحُ الْيَدَّيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ)

Dalam sebagian redaksimatan menggunakan bahasa “hingga kedua siku”.


وَفِيْ بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ

Mengusap kedua bagian ini (wajah & kedua tangan) dengan dua pukulan pada debu.


وَيَكُوْنُ مَسْحُهُمَا بِضَرْبَتَيْنِ

Seandainya ia meletakkan tangannya ke debu yang lembut kemudian ada debu yang menempel pada tangannya tanpa memukulkan tangan, maka sudah dianggap cukup.


وَلَوْ وَضَعَ يَدَّهُ عَلَى تُرَابٍ نَاعِمٍ فَعَلَقَ بِهَا تُرَابٌ مِنْ غَيْرِ ضَرْبٍ كَفَى

Rukun yang ke empat adalah tertib. Maka wajib mendahulukan mengusap wajah sebelum mengusap kedua tangan, baik tayammum untuk hadats kecil ataupun hadats besar.


(وَ) الرَّابِعُ (التَّرْتِيْبُ) فَيَجِبُ تَقْدِيْمُ مَسْحِ الْوَجْهِ عَلَى مَسْحِ الْيَدَّيْنِ سَوَاءٌ تَيَمَّمَ عَنْ حَدَثٍ أَصْغَرَ أَوْ أَكْبَرَ

Dan seandainya ia meninggalkan tertib, maka tayammumnya tidak sah.


وَلَوْ تَرَكَ التَّرْتِيْبَ لَمْ يَصِحَّ

Adapun mengambil debu untuk mengusap wajah dan kedua tangan, maka tidak disyaratkan harus tertib.


وَأَمَّا أَخْذُ التُّرَابِ لِلْوَجْهِ وَالْيَدَّيْنِ فَلَا يُشْتَرَطُ فِيْهِ تَرْتِيْبٍ

Dan seandainya ia memukulkan tangan satu kali ke debu dan mengusap wajahnya dengan tangan kanan, dan mengusap tangan kanannya dengan tangan kirinya, maka hal itu diperkenankan.

وَلَوْ ضَرَبَ بِيَدِّهِ دَفْعَةً عَلَى تُرَابٍ وَمَسَحَ بِيَمِيْنِهِ وَجْهَهُ وَبِيَسَارِهِ يَمِيْنَهُ جَازَ .


Kesunahan-Kesunahan Tayammum


Kesunahan tayammum ada tiga perkara. Dalam sebagian redaksi matan, menggunkan bahasa “tigakhishal”.


(وَسُنَنُهُ) أَيِ التَّيَمُّمِ (ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ) وَفِيْ بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ ثَلَاثُ خِصَالٍ

Yaitu membaca basmalah, mendahulukan bagian kanan dari kedua tangan sebelum bagian kiri dari keduanya, dan mendahulukan wajah bagian atas sebelum wajah bagian bawah.


(التَّسْمِيَّةُ وَتَقْدِيْمُ الْيُمْنَى) مِنَ الْيَدَّيْنِ (عَلَى الْيُسْرَى) مِنْهُمَا وَتَقْدِيْمُ أَعْلَى الْوَجْهِ عَلَى أَسْفَلِهِ

Dan muwallah. Maknanya telah dijelaskan di dalam bab “wudlu’”.


(وَالْمُوَالَّاةُ) وَسَبَقَ مَعْنَاهَا فِي الْوُضُوْءِ

Masih ada beberapa kesunahan-kesunahan tayammum yang disebutkan di dalam kitab-kitab yang diperluas keterangannya.


وَبَقِيَ لِلتَّيَمُّمِ سُنَنٌ أُخْرَى مَذْكُوْرَةٌ فِي الْمُطَوَّلَاتِ

Di antaranya adalah orang yang tayammum sunnah melepas cincinnya saat memukul debu pertama. Sedangkan untuk pukulan yang kedua, maka wajib melepas cincin.

مِنْهَا نَزْعُ المُتَيَمِّمِ خَاتَمَهُ فِي الضَّرْبَةِ الْأُوْلَى أَمَّا الثَّانِيَةُ فَيَجِبُ نَزْعُ الْخَاتَمِ فِيْهَا.


Hal-Hal yang Membatalkan Tayammum


Hal-hal yang membatalkan tayammum ada tiga perkara.


(وَالَّذِيْ يُبْطِلُ التَّيَمُّمَ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ:)

Salah satunya adalah setiap perkara yang membatalkan wudlu’. Dan telah dijelaskan di dalam bab “Sebab-Sebab Hadats”.

أَحَدُهَا كُلُّ (مَا أَبْطَلَ الْوُضُوْءَ) وَسَبَقَ بَيَانُهُ فِيْ أَسْبَابِ الْحَدَثِ

Sehingga, ketika seseorang dalam keadaan bertayammum kemudian hadats, maka tayammumnya batal.


فَمَتَى كَانَ مُتَيَمِّمًا ثُمَّ أَحْدَثَ بَطَلَ تَيَمُّمُهُ

Yang ke dua adalah melihat air di selain waktu sholat. Dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa “wujudnya air”.


(وَ) الثَّانِيْ (رُؤْيَةُ الْمَاءِ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ وُجُوْدُ الْمَاءِ (فِيْ غَيْرِ وَقْتِ الصَّلَاةِ)

Sehingga, barang siapa melakukan tayammum karena tidak ada air kemudian ia melihat atau menyangka ada air sebelum melakukan sholat, maka tayammumnya batal.


فَمَنْ تَيَمَّمَ لِفَقْدِ الْمَاءِ ثُمَّ رَأَى الْمَاءَ أَوْ تَوَهَّمَهُ قَبْلَ دُخُوْلِهِ فِي الصَّلَاةِ بَطَلَ تَيَمُّمُهُ

Sehingga, jika ia melihat air saat melakukan sholat, dan sholat yang dilakukan termasuk sholat yang tidak gugur kewajibannya dengan tayammum -tetap wajib qadla’- seperti sholatnya orang muqim, maka seketika itu sholatnya batal.

فَإِنْ رَآهُ بَعْدَ دُخُوْلِهِ فِيْهَا وَكَانَتِ الصَّلّاةُ مِمَّا لَايَسْقُطُ فَرْضُهَا بِالتَّيَمُّمِ كَصَلَاةِ مُقِيْمٍ بَطَلَتْ فِي الْحَالِ

Atau termasuk sholat yang sudah gugur kewajibannya dengan tayammum seperti sholatnya seorang musafir, maka sholatnya tidak batal, baik sholat fardlu ataupun sunnah.


أَوْ مِمَّا يَسْقُطُ فَرْضُهَا بِالتَّيَمُّمِ كَصَلَاةِ مُسَافِرٍ فَلَا تَبْطُلُ فَرْضًا كَانَتِ الصَّلاَةُ أَوْ نَفْلًا

Jika seseorang melakukan tayammum karena sakit atau sesamanya, kemudian ia melihat air, maka melihat air tidaklah berpengaruh apa-apa, bahkan tayammumnya tetap sah.


وَإِنْ كَانَ تَيَمُّمُ الشَّخْصِ لِمَرَضٍ وَنَحْوِهِ ثُمَّ رَأَى الْمَاءَ فَلَا أَثَرَ لِرُؤْيَتِهِ بَلْ تَيَمُّمُهُ بَاقٍ بِحَالِهِ

Yang ketiga adalah murtad. Murtad adalah memutus Islam.

(وَ) الثَّالِثُ (الرِّدَّةُ) وَهِيَ قَطْعُ الْإِسْلَامِ


Shahibul Jaba’ir (Orang yang Memakai Perban)


Ketika secara syara’ tercegah untuk menggunakan air pada anggota badan, maka jika pada anggota tersebut tidak terdapat penutup, maka bagi dia wajib melakukan tayammum dan membasuh anggota yang sehat, dan tidak ada kewajiban tertib antara keduanya (tayammum & membasuh yang sehat) bagi orang yang junub.


وَإِذَا امْتَنَعَ شَرْعًا اسْتِعْمَالُ الْمَاءِ فِيْ عُضْوٍ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ سَاتِرٌ وَجَبَ عَلَيْهِ التَّيَمُّمُ وَغَسْلُ الصَّحِيْحِ وَلَا تَرْتِيْبَ بَيْنَهُمُا لِلْجُنُبِ

Adapun orang yang hadats kecil, maka dia boleh melakukan tayammum ketika sudah waktunya membasuh anggota yang sakit.

أَمَّا الْمُحْدِثُ فَإِنَّمَا يَتَيَمَّمُ وَقْتَ دُخُوْلِ غَسْلِ الْعُضْوِ الْعَلْيِلِ

Jika ada penghalang (satir) pada anggota yang sakit, maka hukumnya dijelaskan di dalam perkataan mushannif di bawah ini.

فَإِنْ كَانَ عَلَى الْعُضْوِ سَاتِرٌ فَحُكْمُهُ مَذْكُوْرٌ فِيْ قَوْلِ الْمُصَنِّفِ

Orang yang memakaijaba’ir (perban), jaba’iradalah bentuk kalimat jama’nya lafad jabirah, yaitu kayu atau bambu yang dipasang dan diikatkan pada anggota yang luka / retak agar supaya bersatu kembali / sembuh, maka ia wajib mengusap perbannya dengan air jika tidak memungkinkan untuk melepasnya karena khawatir terjadi bahaya yang telah dijelaskan di depan.


(وَصَاحِبُ الْجَبَائِرِ) جَمْعُ جَبِيْرَةٍ بِفَتْحِ الْجِيْمِ وَهِيَ أَخْشَابٌ أَوْ قَصْبٌ تُسَوَّى وَتُشَدُّ عَلَى مَوْضِعِ الْكَسْرِ لِيَلْتَحِمَ (يَمْسَحُ عَلَيْهَا) بِالْمَاءِ إِنْ لَمْ يُمْكِنْهُ نَزْعُهَا لِخَوْفِ ضَرَرٍ مِمَّا سَبَقَ

Dan orang yang memakai perban harus melakukan tayammum di wajah dan kedua tangan seperti yang telah dijelaskan.


(وَيَتَيَمَّمُ) صَاحِبُ الْجَبَائِرِ فِيْ وَجْهِهِ وَيَدَّيْهِ كَمَا سَبَقَ

Ia harus melakukan sholat dan tidak wajib mengulangi -ketika sudah sembuh-, jika ia memasang perbannya dalam keadaan suci dan diletakkan pada selain aggota tayammum.


(وَيُصَلِّيْ وَلَا إِعَادَةَ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ وَضْعُهَا) أَيِ الْجَبَائِرِ (عَلَى طُهْرٍ) وَكَانَتْ فِيْ غَيْرِ أَعْضَاءِ التَّيَمُّمِ

Jika tidak demikian, maka ia wajib mengulangi sholatnya -ketika sudah sembuh-. Dan ini adalah pendapat yang disampaikan imam an Nawawi di dalam kitab ar Raudlah.


وَإِلَّا أَعَادَ وَهَذَا مَاقَالَهُ النَّوَوِيُّ فِي الرَّوْضَةِ

Akan tetapi di dalam kitab al Majmu’, beliau berpendapat bahwa sesungguhnya kemutlakan yang disampaikan jumhur(mayoritas ulama’) menetapkan bahwa tidak ada perbedaan, maksudnya antara posisi perban yang berada pada anggota tayammum dan selainnya.

لَكِنَّهُ قَالَ فِي الْمَجْمُوْعِ إِنَّ إِطْلَاقَ الْجُمْهُوْرِ يَقْتَضِيْ عَدَمَ الْفَرْقِ أَيْ بَيْنَ أَعْضَاءِ التَّيَمُّمِ وَغَيْرِهَا.

Perban disyaratkan harus tidak menutup anggota yang sehat kecuali anggota sehat yang memang harus tertutup guna memperkuat perban tersebut.


وَيُشْتَرَطُ فِي الْجَبِيْرَةِ أَنْ لَا تَأْخُذَ مِنَ الصَّحِيْحِ إِلَّا مَا لَا بُدَّ مِنْهُ لِلْاِسْتِمْسَاكِ

Lushuq[1], ishabah[2], murham[3] dan sesamanya yang terdapat pada luka hukumnya sama denganjabirah.

وَاللَّصُوْقُ وَالْعِصَابَةُ وَالْمَرْهَمُ وَنَحْوُهَا عَلَى الْجُرْحِ كَالْجَبِيْرَةِ


Yang Boleh Dilakukan dengan Tayammum


Sesorang harus melakukan tayammum setiap hendak melakukan satu ibadah fardlu dan ibadah nadzar.[4] Sehingga ia tidak diperkenankan melakukan dua sholat fardlu, dua thowaf, sholat dan thowaf, sholat Jum’at dan khutbahnya hanya dengan satu kali tayammum.


(وَيَتَيَمَّمُ لِكُلِّ فَرِيْضَةٍ) وَمَنْذُوْرَةٍ فَلَا يَجْمَعُ بَيْنَ صَلَاتَيِ فَرْضٍ بِتَيَمُّمٍ وَاحِدٍ وَلَا بَيْنَ طَوَافَيْنِ وَلَا بَيْنَ صَلَاةٍ وَطَوَافٍ وَلَا بَيْنَ جُمُعَةٍ وَخُطْبَتِهَا

Ketika seorang wanita melakukan tayammum guna melayani sang suami, maka bagi dia diperkenankan melakukan pelayanan berulang kali dan melakukan sholat dengan tayammum tersebut.


وَلِلْمَرْأَةِ إِذَا تَيَمَّمَتْ لِتَمْكِيْنِ الْحَلِيْلِ أَنْ تَفْعَلَهُ مِرَارًا وَتَجْمَعُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلَاةِ بِذَلِكَ التَّيَمُّمِ

Perkataan mushannif “ dengan satu tayammum, seseorang diperkenankan melakukan ibadah-ibadah sunnah yang ia kehendaki” tidak tercantum di dalam sebagian redaksi matan.

وَقَوْلُهُ (وَيُصَلِّي بِتَيَمُّمٍ وَاحِدٍ مَاشَاءَ مِنَ النَّوَافِلِ) سَاقِطٌ مِنْ بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ.


[1] Sesuatu yang ditempelkan pada luka baik berupa kain, kapas atau sesamanya.

[2] Sesuatu yang diikatkan pada luka baik berupa tali atau sesamanya.

[3] Obat yang ditabutkan ke luka.

[4] Sholat, thowaf da khutbah Jum’at saja.

Saturday, February 9, 2019

Download apk WATCH AND EARN 2019 terbaru

assalamualaikum
selamat datang kembali di halaman saya,
pada kali ini saya akan memberi ilmu yang bermanfaat bagi anda, dan memberi anda penghasilan sambil duduk manis,
tapi sebelum itu saya beritahu kepada anda,
jika kita ingin memburu dolar, supaya anda tidak bosan, anda jangan pernah tergesah-gesah dalam memainnya, anggap saja permainan kita ini adalah buat iseng-iseng doang, karna untuk mendapatkan uang dolar dari internet bukan hal yang semudah-mudah mungkin,
coba kita fikirkan,, sebodoh-bodoh manusia, tidak akan memberikan uang kepada orang dengan semudahnya, jika dia tidak dapat keuntungan dari kita,
berarti logikanya kita memainkan aplikasinya, cuma 2% pendapatan dia yang dikirim buat kita, jadi sabar-sabar aja kita dalam menjalaninya, anggap saja, permainan ini adalah permainan santai, jangan anggap ini profesi cari duit kita, masih banyak pekerjaan lain yang mesti kita lakukan, tapi jika anda ingin mendapatkan tambahan sedikit dari luar, kenapa salah untuk daftar aplikasi ini,
tapi banyak orang juga yang telah menerima uang dari aplikasi ini, malah lebih mengutungkan katanya,
jadi langsung saja download aplikasinya
WATCH AND EARN
silahkan saja download aplikasinya, dan anda rasakan bagaimana permainan nya,
cukup mudah kok tinggal kita nonton video dan dapatkan poin
setelah itu kita tukar menjadi uang,


download disini|disini

Monday, February 4, 2019

download app cloner premium last version 2019 free

assalamualaikum
semoga anda sehat sehat selalu,
pada kesempatan ini, saya akan memberi lagi aplikasi yang sangat bermanfaat bagi kalian semua, yaitu aplikasi app cloner premium v 1.5.12 secara free,
dimana fungsi aplikasi ini adalah
  • Bisa menggandakan semua aplikasi messenger (WhatsApp, LINE, BBM, Skype, VK, Snapchat, Facebook, Messenger dan lainnya)
  • Tidak ada batasan untuk menggandakan aplikasi anda bisa membuat clone WhatsApp 1, WhatsApp 2, WhatsApp 3 dan seterusnya. Begitupula dengan aplikasi lainnya.
  • Dapat menyimpan file APK hasil clon ke memory ponsel anda.
  • Dapat mengganti / memodifikasi icon launcer aplikasi yang di clone
  • Dapat meng-clone aplikasi Jam
  • Dapat memodifikasi tampilan warna navigasi bar, dan tolbar
  • Bisa mengubah kunci rotasi
  • Dapat mengubah ukuran tampilan, bahasa dan ukuran font aplikasi yang di clone
  • Dapat menambahkan sandi custom untuk aplikasi yang di clone
  • Ubah ID Android, sembunyikan IMEI dan MAC WI-FI
  • Dan masih banyak fitur premium yang dapat anda gunakan
coba tunggu apalagi, masih banyak keunggulan aplikasi ini,,
download aplikasinya pada link dibawah ini

Download App Cloner Premium

Nama APKApp Clone Premium
PengembangThe Begal
UpdateNovember 2018
Perlu Root atau TidakTidak
Versi saat ini1.5.12
Ukuran12,7MB
Minimal Android4.0 ke atas
KategoriAlat
DOWNLOAD

Friday, February 1, 2019

Download Dream League Soccer 2019 MOD APK v6.07 (Unlimited Money) 2019 game mod

assalamualaikum
kembali lagi di ILMU MANFAAT kami akan memberi anda game terbaru dan paling hist didunia game, namun pada kali ini sedikit berbeda game nya daripada yang aslinya, yaitu game yang berbasis MOD ataupun full money,
memang sih iya, sedikit agak curang cara bermain kita, namun tetap juga memiliki kerumitan dalam bermain, jika anda suka dengan game yang berbasis mod anda bisa download game

Download Dream League Soccer 2019 MOD APK v6.07 (Unlimited Money)


sekarang anda bebas untuk membeli pemain dan anda mengupgrade apa saja yang anda inginkan, karna uang anda tidak akan bakalan habis, dan terserah anda ingin membeli pemain mana saja, segera anda download game ini

  • NameDream League Soccer 2019
  • Latest Version6.07
  • Size71M
  • PriceFree
  • PlatformsAndroid 4.4+ iOS 9.0+
  • MOD Features:Unlimited Money

download disini
apk | obb


semoga bermanfaat,
silahkan anda mendownloadnya dan silahkan anda bermainnya